Monitorberita.id, Lampung Timur – Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Lampung Timur akhirnya memberikan klarifikasi terkait polemik penggunaan logo dan atribut adat dalam ajang Pemilihan Muli Mekhanai 2026 yang menuai protes dari tokoh adat.
Melalui Kepala Bidang Pariwisata, Adianto, pihaknya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kekeliruan yang terjadi dalam materi publikasi kegiatan tersebut.
Saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp, Adianto mengakui adanya kekeliruan yang disebabkan keterbatasan pemahaman panitia terhadap budaya lokal.
“Ya pak, saya atas nama pribadi dan seluruh jajaran panitia mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekeliruan kami. Ini akibat minimnya pengetahuan kami di bidang budaya Lampung Timur,” ujar Adianto, Kamis (16/4/2026).
Ia juga menegaskan bahwa permohonan maaf tersebut ditujukan kepada seluruh tokoh adat yang merasa dirugikan atas penggunaan simbol budaya yang tidak sesuai pakem.
“Sekali lagi kami haturkan permohonan maaf kepada seluruh tokoh adat atas kekeliruan kami selaku jajaran panitia,” tambahnya.
Lebih lanjut, Adianto menyampaikan komitmen pihaknya untuk melakukan perbaikan ke depan dengan melibatkan tokoh adat serta seluruh elemen masyarakat dalam setiap proses perencanaan kegiatan.
“Kedepan kami akan selalu berkolaborasi dengan tokoh adat dan seluruh lapisan masyarakat sebelum menyelenggarakan kegiatan,” tegasnya.
Saat ditanya terkait rencana revisi materi publikasi yang menjadi polemik, Adianto memastikan perbaikan akan segera dilakukan.
“Segera akan kami perbaiki, pak,” singkatnya.
Sebelumnya, polemik mencuat setelah tokoh adat Lampung menilai penggunaan atribut dalam materi Pemilihan Muli Mekhanai 2026 tidak sesuai dengan pakem adat, bahkan dinilai mencederai nilai dan marwah budaya Lampung.
