-->

Notification

×

Iklan

Iklan

‎Slogan “Untuk Nusantara” di HUT ke-27 Lampung Timur Dikritisi Penyimbang Adat Buay Unyi Sukadana ‎

Jumat, 03 April 2026 | April 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-03T07:12:13Z

 



‎Monitorberita.id, Lampung Timur – Polemik perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Lampung Timur terus bergulir. Setelah sebelumnya menuai sorotan terkait desain logo, kini kritik juga mengarah pada penggunaan slogan “Untuk Nusantara” yang dinilai kurang mencerminkan kearifan lokal.

‎Kritik tersebut disampaikan oleh Penyimbang Adat Buay Unyi Sukadana, Gustam Heri yang bergelar Pengiran Seago Ago. Ia menyayangkan pemilihan diksi dalam slogan yang tidak menggunakan bahasa daerah Lampung, padahal momentum HUT dinilai seharusnya menjadi ruang untuk mengangkat identitas budaya lokal.

‎Menurutnya, penggunaan kalimat “Untuk Nusantara” dapat diganti dengan bahasa Lampung seperti “Guwai Nusantaro” yang memiliki makna serupa, namun lebih merepresentasikan nilai adat dan penghormatan terhadap masyarakat adat setempat.

‎“Saya selaku penyimbang Buay Unyi Sukadana sekaligus ketua ormas GRIB sangat menyayangkan pihak Pemerintah Kabupaten Lampung Timur yang tidak melibatkan penyimbang adat dari berbagai kebuayan. Seharusnya pihak terkait, khususnya Komdigi sebagai promotor kegiatan, dapat melibatkan tokoh adat agar logo dan slogan memiliki makna filosofis yang jelas dan tidak menimbulkan polemik,” ujar Pengiran Seago Ago.

‎Ia menegaskan bahwa keterlibatan tokoh adat penting, mengingat kegiatan tersebut menggunakan anggaran daerah yang tidak sedikit. Dengan demikian, hasil yang ditampilkan di ruang publik seharusnya mencerminkan identitas budaya daerah secara utuh.

‎Selain mengkritisi slogan, Pengiran Seago Ago juga menyampaikan harapannya agar pelaksanaan perayaan HUT Lampung Timur ke depan dapat dilakukan secara merata di berbagai wilayah, termasuk Kecamatan Sukadana.

‎“Saya meminta ke depan agar perayaan HUT Lampung Timur dapat dilaksanakan di Sukadana. Selama 27 tahun, belum pernah kegiatan tersebut digelar di wilayah kami,” tambahnya.

‎Sebagai perbandingan, sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Lampung diketahui konsisten menggunakan bahasa Lampung dalam slogan daerahnya, di antaranya:

‎1. Kota Bandar Lampung: “Ragom Gawi” (Bersama-sama bekerja/berkarya).
‎2. Kota Metro: “Bumi Sai Wawai” (Tanah yang indah/baik).
‎3. Lampung Selatan: “Ragom Mufakat” (Suka bermusyawarah/mufakat).
‎4. Lampung Tengah: “Beguwai Jejamo Wawai” (Bekerja bersama untuk kebaikan).
‎5. Lampung Utara: “Agem Tunas Lampung” (Tempat bertunas/berkembangnya harapan Lampung).
‎6. Lampung Barat: “Begu Jejama” (Bersama-sama bekerja/gotong royong).
‎7. Tulang Bawang: “Sai Bumi Nengah Nyappur” (Masyarakat yang ramah dan suka bergaul).
‎8. Way Kanan: “Ramik Ragom” (Ramai/bersemangat kompak).
‎9. Tanggamus: “Begawi Jejama” (Bekerja bersama-sama).
‎10. Lampung Timur: “Bumei Tuwah Bepadan” (Negeri yang makmur dan beradat).
‎11. Pesawaran: “Andan Jejama” (Memelihara bersama-sama).
‎12. Pringsewu: “Jejama Secancanan” (Bersama-sama bersahabat/beriringan).
‎13. Mesuji: “Ragab Begawe Caram” (Semangat bekerja keras dan bergotong royong).
‎14. Tulang Bawang Barat: “Ragem Sai Mangi Wawai” (Bersama-sama meraih kesuksesan/kebaikan).
‎15. Pesisir Barat: “Negeri Para Sai Batin dan Para Ulama” (juga dikenal: “Sai Batin dan Ulama”).

‎Daftar tersebut memperlihatkan kuatnya penggunaan bahasa daerah sebagai identitas dan simbol kebanggaan di masing-masing wilayah.

‎Polemik ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kabupaten Lampung Timur agar ke depan setiap kebijakan yang berkaitan dengan identitas daerah dapat lebih inklusif serta melibatkan berbagai unsur, khususnya tokoh adat sebagai penjaga nilai dan tradisi lokal.

×
Berita Terbaru Update